North England 2006

Persiapan:
-
booking rumah lewat
House of Britain, nemu apartemen
Moorview di
Westwood Lodge di Ilkley, desa antara kota Leeds dan York
-
booking Bed & Breakfast (B&B) di
Langeslag,
Hoek van Holland-
booking B&B di Ipswich,
-
booking tiket kapal
Stena Line, dari
Hook of Holland ke Harwich
- booking tour stadion Liverpool
Kamis sore (30/8)Setelah makan malam berangkat ke
Hoek van Holland. Aku nyetir bagian pertama setelah terowongan deket Vlaardingen dan Gegen sisanya. Nyampe di (B&B) di
Langeslag sekitar jam setengah 9 malem. Kamarnya gede, ada dapur segala. WC dan
shower ada satu, dibagi untuk 4 kamar. Selain kita ada tamu satu lagi. Pemilik B&B tinggal di lantai dua. Kita muterin kota sebentar dan ternyata pelabuhannya udah deket banget. Deket pelabuhan ada stasiun kereta api, yang punya alat untuk sistem tiket baru. Beberapa tahun ke depan Belanda mau bikin sistem tiket seragam untuk semua kendaraan umum dan kota ini salah satu uji cobanya.
Jumat (1/9)Kapal kita berangkat jam 7.20, tapi kita harus
check in sejam sebelumnya. Kita bangun jam 6, di pelabuhan belum banyak mobil yang ngantri. Ada yang dari Belgia, Jerman, Belanda sendiri dan Inggris. Kita ngasih
print email dari Stena Line dan dikasih tiket. Setelah
check in tiba saatnya ngecek paspor. Pas pasporku diperiksa, jelas yang paling lama

. Petugasnya minta ijin tinggalku juga. Aku dikasih kartu yang sama dengan kartu kalo aku naik pesawat dan harus transit di Singapur ato Kuala Lumpur. Kartu itu harus diisi dengan alamat di Inggris, dll.
Di dalam kapal ada toko, kasino, restoran, kafe sampe bioskop. Bioskopnya harus bayar. Kita liat-liat toko tapi kok akhirnya jadi puyeng

. Perjalanannya kurang lebih 3,5 jam, di tengah jalan kita harus mundurin jam satu jam, sesuai waktu di Inggris.
Kita nyampe Harwich jam 10.30, harus nyetir lagi 400 km ke Ilkley. Rada ngeri juga awalnya karena nyetirnya di kiri (kayak di Indonesia) dan Gegen harus nyesuaiin diri dulu. Route yang kita
print dari
Routenet ternyata ngaco, terpaksa ngeluarin peta. Lumayan nyasar juga kita. Di tengah jalan kita berhenti buat makan siang, bawa popmie.
Kita nyampe Ilkley jam 17.30. Nyampe apartemen yang kita sewa, Tim pemiliknya udah nyambut. Kita nyewa salah satu apartemen yang namanya
Moorview karena pemandangannya ke
Moor atau perbukitan di daerah situ. Ilkley letaknya di antara Leeds dan York, di daerah yang namanya Yorkshire. Apartemen kita terdiri dari dapur, ruang tamu & makan, kamar mandi dan ruang tidur. Di ruang tamu dan tidur ada tipi, tipi di ruang tamu lengkap dengan DVD dan video
player. Terus terang waktu aku liat apartemen kita, aku ngerasa bersalah, kayaknya terlalu mewah. Aku orangnya biasa sederhana, yang penting jalan-jalannya. Mau tinggal dimana juga, ayo aja

. Kata Gegen sih, kita layak menikmati liburan setelah yang terjadi dengan mamanya.
Setelah makan malam kita liat-liat sekitar apartemen. Di lantai dasar ada berbagai video dan DVD, di ruang bawah tanah ada sauna, ruang fitness dan
bubble bath. Gegen yang seneng sauna langsung ngiler.
Sabtu (2/9)Paginya ujan rintik-rintik. Kita gak mau nunggu ujan reda, akhirnya jalan aja. Apartemen kita letaknya di atas, jadi ke arah pusat kota enak, jalannya menurun. Jalan untuk mobilnya punya beberapa
cattle grid atau ada lubang lebar yang di atasnya dipasangi balok-balok besi supaya domba-domba gak bisa keliaran keluar dari daerah mereka.
Nyampe pusat kota kita ke stasiun, liat kedai majalah, trus di situ ada supermaket juga. Koran dan majalah di Inggris banyak banget. Dari yang bermutu tinggi sampe yang isinya gosip melulu. Belakangan kita suka baca koran di perpus deket situ walopun Gegen akhirnya beli koran
The Times yang tebel dan dapet CD musik klasik. Kalo di perpus aku suka baca koran
Daily Mirror yang sebenarnya isinya gak penting-penting amat, banyak tentang artis, cerita orang-orang aneh gitu.
Kita juga nanya informasi tiket kereta api ke Liverpool dan York. Setelah itu kita liat-liat toko, jalan-jalan aja di sekitar Ilkley. Pulangnya gempor juga karena jalannya nanjak.
Minggu (3/9)Seharian ujan deres. Kita sempet pesimis juga liat cuacanya. Pas siang, cuacanya membaik, malah cenderung hangat. Kita jalan ke kota, ada supermaket kecil yang buka. Kita juga beli tiket kereta api untuk ke Liverpool hari Senennya. Setelah itu kita ke atas bukit, ada bangunan putih gitu. Ternyata bangunan itu rumah mandi (
bath house). Di deket situ ada air terjun, air untuk rumah mandi asalnya dari situ.
Beberapa penampakan B&B dan desa Ilkley (arahkan mouse ke foto untuk ngeliat judul):
Senin (4/9)Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba!! Sebenarnya kalo kita jadi ke Liverpool awal September, tadinya aku mo kopdar sama
Sherly, yang kuliah di Liverpool. Tiba-tiba kejadian mama mertuaku. Sejak itu aku jadi gak berani rencana-rencana lagi. Lagian kayaknya Sherly sibuk sama kuliah dan persiapan pulangnya. Kita beli tiket murah yang baru bisa dipake setelah jam 9.30. Sebelumnya kita ke perpus lokal. Kita pingin make internet, tapi ternyata internetnya sedang rusak. Untuk ke Liverpool kita naik kereta dulu ke Leeds, dari situ ganti kereta ke Liverpool. Ilkley-Leeds cuma setengah jam, dari Leeds ke Ilkley yang jauh banget, sekitar 1,5 jam lebih kayaknya, belum lagi nunggu keretanya. Di kereta api ada tukang jual kopi, snack dan macam-macam minuman. Nyampe Liverpool udah jam 12.30. Kita beli makanan di
Burger King. Setelah itu nanya gimana cara naik bis ke stadion. Kita udah
booking tur stadion jam 3. Di deket stasiun ada terminal bis namanya
Queen Square. Dari terminal ke stadion kurang lebih 20 menitan. Pas nyampe stadion, banyak anak kecil pake seragam lengkap Liverpool

. Sebelum mulai tur kita ke
fanshop. Aku gak begitu suka kaos mereka musim ini, kaos
home (untuk main di stadion sendiri) memang masih warna merah, tapi kerahnya aneh sedangkan kaos
away (yang dipake pas main di kandang lawan) warnanya kuning gitu. Akhirnya aku beli kaos LFC juga tapi bukan kaos pemain. Gegen beliin gantungan buat mobil dan mug. Aku sebenarnya sebel juga karena kaos seragamnya kayak gitu. Mereka punya serpis
printing nama pemain. Aku nanya bisa nyetak nama Steve McManaman (bekas pemain Liverpool yang bikin aku jatuh cinta dengan Liverpool) dan ternyata bisa, sayangnya gak bisa di kaos yang kubeli

. Ya sudahlah. Setelah itu kita ke museum. Isinya sejarah Liverpool, ada cerita tentang Bill Shankly (manajer bersejarah Liverpool), turnamen yang dimenangkan Liverpool. Aku moto poster Steve McManaman sayang kabur gitu.
Akhirnya waktu tur stadion tiba. Ada sekitar 50 orang yang ikut tur, dari anak kecil sampe orang tua.
Guide-nya 2 orang bapak-bapak. Kita diajak masuk ke pintu yang benaran dimasuki oleh pemain, pelatih, wasit dan pers. Di pintu masuk kita ditanyai apa semua pendukung Liverpool. Kebanyakan iya, kecuali Gegen (Feyenoord), beberapa orang Newcastle dan Manchester. Waktu masuk, ada kamar-kamar kecil yang salah satu sisinya ada papan berbagai sponsor dan atasnya ada kamera. Ternyata itu kamar untuk wawancara pemain/pelatih setelah bermain. Setelah pertandingan usai dan pemain balik ke ruang ganti, mereka diseret wartawan ke ruang itu buat diwawancarai. Selanjutnya kita ke ruang ganti pemain. Ruangnya sederhana banget. Kata pemandunya, kalo di stadion lain kayak
Manchester United ruang gantinya mewah, tapi di Anfield, sarangnya Liverpool gak mewah karena pertandingan itu perang, pemain gak perlu dimanja kalo mau perang. Di ruang ganti digantung kaos-kaos pemain dan kalo mereka ganti baju juga urutannya gitu. Setelah selesai penjelasan singkat dari pemandu kita boleh foto dengan kaos pemain. Gegen langsung minta difoto deket kaos Kuyt, bekas pemain Feyenoord yang baru aja pindah ke Liverpool. Aku minta difoto deket kaos Robbie Fowler, bekas pemain Liverpool yang balik lagi ke Liverpool. Sayang Gegen kalo moto goyang, jadi gak jelas gitu

.
Setelah itu kita ke stadion beneran, duduk di bagian pemain, pelatih. Aku merinding waktu masuk ke stadion. Stadion ini bisa menampung 45 ribu orang. Mereka sedang membangun stadion baru yang bakal menampung 60 ribu orang, lokasinya gak jauh juga dari situ. Waktu ada yang nanya stadion ini bakal diapain setelah yang baru jadi, pemandunya bilang belum jelas juga. Katanya di sini banyak ditebarin abu penggemar Liverpool, jadi ada keberatan juga dari keluarga mereka. Abu

? Ada-ada aja

. Trus kita dibawa ke satu sisi yang paling tua. Sisi ini yang paling bersejarah, saking tuanya sampe sempet rubuh dan menelan korban jiwa. Stadion ini nama resminya
The Kop, sejarahnya dulu banyak orang dari Liverpool yang dikirim ke Afrika Selatan untuk perang. Perang itu namanya
Spinkop dan untuk mengenang korban jiwa perang ini, stadion Liverpool dinamakan
The Kop.
Virtual tour stadion ada di
website-nya.
Selesai tur, waktu kita gak banyak lagi. Kita balik ke pusat kota dan mutusin ke
Albert Dock, daerah pelabuhan. Kita jalan kaki aja ke sana, lewat pusat perbelanjaan. Kita ngelewatin
Royal Liver Building, yang atasnya ada
Liverbird, simbol kota dan klub sepak bola Liverpool. Deket bangunan itu ada museum juga. Di
Albert Dock ada restoran, kafe, toko-toko dan museum
The Beatles!. Kita langsung males liat harga tiketnya, 9 poundsterling

. Akhirnya cuma liat
fanshop. Aku jadi inget Erdi, temen kuliahku yang gila
The Beatles. Tiap dia pegang gitar, aku minta dimainin
Love Me Do
. Salah satu toko suvenir di situ masih buka, harganya miring juga. Beli kaos satu, dapet gratis satu. Akhirnya aku beli kaos dan yang gratis untuk Gegen. Pulangnya kita beli roti dibagi dua di
Subway.
Beberapa penampakan Liverpool:
Selasa (5/9)Ujan lagi. Cuma ke stasiun beli tiket ke York dan ke perpus, make internet.
Rabu (6/9)Gegen pingin ke York, katanya kotanya tua dan antik. Untuk ke situ kita juga perlu naik kereta dulu ke Leeds. Aku ngusulin kita pas nyampe York naik bis
City sightseeing yang ada pemandunya dan tiketnya bisa dipake naik-turun ke tempat-tempat wisata. Sesampai di York kita langsung naik bis, ikut tur muterin kota satu kali terus turun waktu nyampe di pusat kota. Kotanya bagus juga, dikelilingi tembok tinggi. Beberapa bagiannya ada yang harus dijebol untuk jalan raya. Pemandu tur kita ibu-ibu tua gitu, dia hari ini udah beberapa putaran memandu turis. Katanya kita rombongan yang terakhir. Bisnya lewat pusat kota, liat puncak gereja
York Minster dari kejauhan, lewat ke lapangan pacuan kuda yang di pinggirnya pernah untuk atraksi penggantungan penjahat. Kita nemu Pizza Hut, makan pizza prasmanan, 4 pond atau 6 euro per orang (1 pond=1,5 euro).
Setelah itu kita jalan kaki ke
York Minster, gereja Gothik paling tua. Jalan ke gereja itu kita ngelewatin pusat kota, liat-liat toko suvenir juga. Kita beli kue khas York dan
fudge, sejenis permen karamel untuk Christine, Laetitia dan papa mertuaku. Untuk Christine kita kebetulan nemu kaleng yang ada tulisannya
thank you for taking care of my cat
. Kita juga beli gantungan kunci untuk anak Christine yang cewek dan celengan bentuk bis merah London untuk Randy, anak baptis Gegen.
Nyampe
York Minster, ternyata untuk liat ke dalamnya, mesti bayar lagi 5 pond

. Waduh kita mikir panjang. Ntar aja lah kalo ada rejeki lagi ke sana

. Akhirnya kita cuma liat sedikit bagian dalamnya aja. Terus naik bis lagi, ke arah
Clifford Tower. Menara ini bentuknya aneh, katanya dulu atapnya dihancurin. Orang bisa naik ke atas dan ngeliat pemandangan ke kota dari atas. Untuk naik itu, mesti bayar

. Kata pemandunya, waktu jaman perang, orang-orang Yahudi diminta untuk mengganti agama mereka jadi Kristen. Mereka gak mau dan bunuh diri rame-rame di sekitar menara ini. Setiap tahun, menjelang Paskah ada peringatan untuk memperingati bunuh diri masal itu. Di sekitar menara itu ada sejenis bunga (lupa bunga apa) yang nongol menjelang peringatan. Akhirnya kita turun di stasiun untuk balik ke Ilkley.
Beberapa tampang York:

Nyampe apartemen aku capek banget. Hari itu Gegen giliran masak. Aku goreng sosis juga. Tiba-tiba dari gorengan sosis itu ada api!

Apinya tambah lama tambah gede. Di dapur itu ada
fire blanket. Kita langsung nyamber itu dan naruh di atas panci, tapi tetep aja apinya gede. Ada pemadam api di dinding, tapi Gegen gak bisa nyopot cincin kuncinya. Dia lari ke bawah manggil orang, aku tetep di atas nyoba buka cincin. Akhirnya cincin itu kebuka dan aku cepet-cepet baca petunjuk makenya. Katanya harus kurang lebih 300 meter nyemprotnya. Aku nyemprot dua kali, satu kali balikin selimutnya, apinya serem gitu. Untung langsung mati

. Karena kamarnya penuh asap aku nunggu di depan pintu. Sementara itu alarm kebakaran udah menjerit-jerit. Aku ketemu Tim, pemiliknya, dia nyuruh aku nutup semua pintu sementara dia ke dapur. Aku kira Gegen manggil dia. Aku turun ke bawah, pas di luar Gegen baru nongol. Ternyata Tim denger alarm, Gegen ngebel pintu depan tapi gak ada orang. Pas kita naik lagi, kita gak berani nutup pintu depan karena Tim masih di dalam. Pas dia keluar lagi, dia nyuruh kita masuk dan nutup pintu depan. Kita disuruh nunggu di kamar tidur karena apartemennya penuh asap. Gak lama kemudian Tim ngetok lagi, dia bilang apinya udah mati dan dia nanya gimana ceritanya. Dia bilang dia pas lagi di rumah dan liat alarm nyala. Dia kirain orang biasa bikin roti panggang gosong, ternyata bau asapnya beda. Dia bilang untung kita gak papa. Yang rusak juga cuma satu botol plastik yang kayaknya penyebab kebakaran yang emang berdirinya deket kompor, gilingan merica-garam dan panci buat masak sosis. Semua jendela dibuka karena asapnya banyak banget. Kita akhirnya makan
fish and chips aja. Malemnya kita bersihin dapur yang penuh debu yang keluar dari pemadam kebakaran. Pegel!
Kamis (7/9)Hari ini kita pingin ke Skipton, kota yang gak jauh dari Ilkley. Pingin nyobain naik bis tingkat. Sebenarnya kita rada gak enak hati karena peristiwa kemaren. Kita takut Tim minta kita ganti rugi. Perasaan kita bermasalah banget, udah nunda liburan, Gegen matahin kunci kamar mandi, trus kebakaran kemaren. Kita nyoba gak mikirin itu. Pengalaman naik bis tingkat asyik juga, apalagi liat jalan naik-turun kelak-kelok. Kita takjub aja liat supirnya yang lincah banget. Aku jadi inget waktu kecil pernah naik bis tingkat di Solo sama Oomku. Kita lewat jalan ke
Bolton Abbey, puing-puing bekas puri gitu. Sayang gak bisa berhenti. Nyampe Skipton, kita muter-muter, makan siang di kedai
fish and chips (lagi) tapi aku pesen ayam goreng dan Gegen pesen hamburger. Setelah itu naik perahu yang katanya lewat puri. Sebenarnya ada tur naik perahu yang 1 jam lebih, setauku itu bakal lewat kanal Leeds-Liverpool, tapi kata Gegen kelamaan. Akhirnya kita milih yang setengah jam aja. Seperahu kita berdelapan. Sungainya tenang, agak membosankan sebenarnya. Pas nyampe di bawah puri, sungainya mentok. Perahunya membalik dan pemandunya cerita tentang sungai ini. Terus terang aku gak nangkep omongannya, logatnya

. Di dinding perahu ada kertas tentang sejarah singkatnya sih. Di bawah puri itu dulunya ada saluran untuk transportasi batubara dari kereta api ke perahu. Setelah naik perahu kita muter-muter aja, trus balik ke Ilkley.
Nyampe Ilkley kita ketemu Tim dan nunjukin "hasil karya" kita ngebersihin dapur. Kita lega banget waktu dia gak bilang perlu bayar ganti rugi

. Malemnya kita beres-beres karena besoknya harus
check out.
Jumat (8/9) Kita cabut dari apartemen jam setengah 10, mampir ke perpus dan supermaket Tesco sebentar lalu ke Ipswich. Sebenarnya tadinya kita bakal balik lagi ke Belanda hari Jumat, ternyata perusahaan kapalnya salah kira, kita ditaruh di hari Sabtu. Karena apartemennya cuma bisa sampe hari Jumat, kita nginep di Ipswich yang gak jauh dari Harwich. Nyampe Ipswich kita muter-muter juga nyari B&B-nya. Lagi nyasar gitu, tau-tau nemu jalannya. Kamarnya enak juga, ada kamar mandi sendiri dan deket dari pusat kota. Malemnya kita muter-muter nyari makan. Banyak anak-anak muda berkeliaran, kayaknya lagi nyari hiburan malem

. Kita akhirnya makan di resto Cina, prasmanan dan banyak orang.
Sabtu (9/9)Kita sarapan pagi di ruang makan. Selain kita ada satu ibu tua sendirian dan satu bapak. Waktu si bapak keluar, ibu pemilik B&B bilang kok di sini sepi banget. Kali dia ngidupin tipi aja. Gegen bilang kok ibu gak nyanyi aja. Dia balesnya ntar kita pada pergi lagi

. Si ibu tua ikut nyeletuk, kalo kita bakal nyanyi bareng. Ibu tua ngajak kita ngobrol. Dia lagi berkunjung ke anaknya yang tinggal di Ipswich, dia sendiri tinggal di Devon, deket London. Wah kenal sama Agatha Christie dong

.
Setelah sarapan kita ke pusat kota. Ada satu toko CD, namanya
HMV, gile jualannya

. Mereka juga jual buku, kebanyakan biografi, harganya ada yang lagi diskon. Aku beli biografi Kurt Cobain dan Dave Grohl, Gegen beli Maradona. Ipswich kotanya biasa aja, gak turistik.
Muka Skipton dan Ipswich:

Sorenya kita ke Harwich, kapalnya berangkat jam 7 malam. Nyampe Belanda aku nyetir dari Rotterdam. Rada serem juga, apalagi pas di bagian yang lagi diperbaiki dan pinggirnya ada tembok.
Liburan kita seminggu, rasanya pendek tapi kita puas karena rasanya nyante, gak ada rencana-rencana segala. Ada beberapa hari kita gak ngapa-ngapain, cuma nyante aja. Gegen bilang dia pingin balik lagi karena sebenarnya pingin jalan naik. Kita kali ini cuma ke kota-kota gitu. Lain kali Inggris,
we'll be back.